Halaman

    Social Items

Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Sahabatku, betapa geram Abu Bakar As-Shiddiq kepada Mistoh, kerabat yang ia santuni dan penuhi kebutuhan hidupnya. Pasalnya, Mistoh sangat gencar melancarkan tuduhan kepada putrinya tercinta, Aisyah radiyallaahu ‘anha.

Ummul Mukminin Aisyah dituduh melakukan perbuatan hina dengan salah seorang sahabat Rasulullah saw. Bahkan saat Allah swt belum menurunkan wahyu akan kebenaran berita tersebut, para penuduh itu begitu yakin akan perbuatan amoral yang dilakukan Aisyah. Bukankah sepantasnya mereka menjadi garda terdepan yang membela keluarga Abu Bakar?
Saat Allah menurunkan wahyu yang menjelaskan akan kesucian Aisyah, Abu Bakar mengeluarkan argumen mengejutkan. Ia tidak akan lagi menyantuni Mistoh beserta keluarganya. Keputusan yang sangat logis dan manusiawi. Mungkin jika peristiwa itu terjadi pada selain Abu Bakar, mereka akan melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar memberhentikan santunan.

Namun, betapa cintanya Allah kepada Abu Bakar sekeluarga sehingga tak membiarkannya larut dalam kemarahan. Allah swt tak ingin Abu Bakar menyimpan benci pada sesama.

Allah kemudian menurunkan ayat, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS An-Nuur [24]: 22).
Sahabat, Abu Bakar bukanlah sembarang sahabat. Ia merupakan orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Apabila fitnah yang menimpa putrinya membuatnya begitu marah, tentu karena fitnah itu terasa begitu menyakitkan.

Akan tetapi kata maaf ternyata tak mengenal seberapa dalamnya sakit hati yang dirasa. Maaf berlaku untuk semua rasa sakit dalam hati. Karenanya, tak heran bila dalam hadits Rasulullah menyampaikan, “Allah tidak akan menambah pemberian maaf dari seseorang kecuali dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya,” (HR Bukhari dan Muslim).
Sahabat, perbedaan antara kita dengan orang lain sering kali membuat kita sempit hati, bahkan menyebabkan luka dalam hati. Saat itu terjadi, siapakah yang paling mulia kedudukannya? Tentu saja, orang yang lebih dulu memaafkan yang meraih kemuliaan. Maka, Sahabat, mari kita raih kemuliaan dari Allah swt dengan menjadi orang yang pemaaf.

Sumber : Ummi-online.com
Sumber Gambar : nautrix.blogspot.com

Hei Mengapa Perlu Berbuat Baik pada Orang yang Tidak Baik Pada Diri Kita ?


 
Inilah fenomena yang ada saat ini. Sebagian besar orang sering menelan mentah-mentah terhadap apa saja yang mereka terima. Tanpa dicerna, diresapi, dan dihayati, justifikasi berbuah fitnah pun bermunculan. Merasa diri paling benar. Bertikai. Dan, berakhir gak jelas. Berdebat bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk menunjukkan bahwa diri sendirilah yang benar. Miris.

Terus terang, saya “gatal” untuk tidak menuliskan semua OPINI yang ada dalam pikiran saya tentang salah satu pernyataan ustadz yang kemudian menjadi kontroversi di dunia maya. Tak perlu saya sebutkan siapa orangnya. Dan lagi, saya juga tidak kenal beliau. 🙂


Ustadz tersebut menyatakan tentang wanita yang sepatutnya lembut. Intinya sih begitu. Gak mungkin juga saya copas semuanya. 🙂

Pernyataan itu pun menuai beragam kontroversi, mulai dari kritikan sopan sampai kritikan yang gak jelas arah tujuannya. 😀

Saya sendiri heran, kenapa sih kata-kata “lembut” berkonotasi negatif dan selalu disandingkan dengan sesuatu yang lemah tak berdaya dan gak jelas alias absurd. Padahal, saya yakin maksudnya tak seperti itu.

 Iya, wanita memang harus LEMBUT karena kelembutan itu adalah letak kekuatannya. Gak percaya?

Coba saja kita hidangkan makanan sederhana pada suami. Pilihan pertama, kita berkata-kata manis. Pilihan kedua, kita berkata-kata kasar. Hidangannya sama-sama sederhana, tapi manakah yang lebih nyes di hati.


Kasus lain lagi. Ada seorang suami yang mungkin karena terlalu sayang pada istrinya, si suami tersebut tak mengizinkan istrinya bekerja. Biarlah suaminya yang membanting tulang dan istri kebagian yang enak-enaknya saja. Namun, si istri ternyata bukanlah wanita manja yang terbiasa ongkang-ongkang. Sejak kecil, ia dididik untuk bekerja keras. Lalu, bagaimana cara dia membujuk suaminya? Pilihan pertama, dengan rumus matematika fisika kimia plus mendebat sang suami bahwa ia adalah lulusan cumlaude akselerasi mahasiswa berprestasi cerdas pintar dan disertai dengan segala macam istilah sok ribet lainnya. Sedangkan pilihan kedua, ia menjelaskan pada suaminya dengan lembut dan menyejukkan bahwa sesungguhnya ia ingin menghasilkan sesuatu bukan karena ia tak bersyukur, melainkan karena ia ingin berkontribusi. Ia ingin mengaplikasikan ilmu yang ia pelajari selama ini. Pun ia memberikan pilihan pada suaminya mengenai bidang-bidang apa saja yang kira-kira boleh ia tekuni. Ia mengatakannya dengan bahasa yang sopan sambil memijat bahu suaminya dengan penuh kasih sayang, misalnya.



Yang mana yang lebih berhasil? 😀



Lembut, tak bermakna lemah. Entah, kenapa orang-orang alergi dengan kata lembut? Apa mereka tak mau mencerna lebih dalam, kurang belajar bahasa konotasi, atau memang tak mau membuka hati? Entahlah.

Yang jelas, menurut saya pribadi, lembut itu juga mampu menempatkan sesuatu pada porsinya.


Saat suami sibuk di kantor, tak mungkin si istri setiap menit WA hanya untuk minta diperhatikan. Jelas, enggak lucu banget. Emang si istri gak punya kesibukan lain? Bekerja, berbisnis, mendidik anak, menambah hafalan, belajar, dan kegiatan lain yang lebih berguna misalnya.



Saat wanita masih single dan ada yang mengajak pacaran, si wanita jelas dengan tegas menolak mentah-mentah. Nah, apakah itu artinya lembut itu lemah?




Apakah wanita-wanita yang setiap hari marah-marah di facebook, twitter, atau socmed lainnya dan mengumbar aib keluarga, itu bisa dibilang wanita kuat dan perkasa? Peribahasa yang aneh bila sampai wanita seperti itu dianggap kuat. Emang dunia sudah kebolak-balik. 😀

 Apakah yang suka mengeluh suami lembur, sendirian di rumah, gak jelas mau ke mana, dan keluhan gak jelas lainnya itu cerminan wanita lembut? Saya rasa tidak.



Apakah wanita yang lebih memilih curhat dengan LAKI-LAKI asing padahal wanita lain masih banyak, itu bisa dikatakan lembut? Ehm… saya rasa sih tidak, itu mah wanita yang haus kasih sayang.

Apakah wanita yang bekerja membanting tulang itu tidak lembut? Lihat-lihat dulu sikonnya dong. Kalau ia masih single, daripada bergosip tidak jelas, mendingan kan belajar dan bekerja. Apalagi bila ia punya tanggungan keluarga. Emang mau ngapain? Pun bila ia sudah menikah. Saat ada suami, ia bak bidadari. Saat suami tidak ada, ia harus mandiri (tidak sedikit sedikit telpon suami, bisa menghandle pekerjaan rumah sendiri, kuat terhadap godaan laki-laki lain, dan hal-hal lainnya)

Yang jelas, dalam memahami sesuatu, kita harus membersihkan hati dan gak boleh menelan mentah-mentah.

Yang nelan mentah-mentah biasanya anak kecil yang belum bisa mengunyah dengan baik karena masih belajar makan. 🙂



Mari semangat memperbaiki diri dan saling mengingatkan dalam kebaikan!!



Penulis:
Miyosi Ariefiansyah alias @miyosimiyo pemilik www(dot)rumahmiyosi(dot)com adalah istri, ibu, penulis, dan pembelajar.


Sumber : www.ummi-online.com
Sumber Gambar : instagram.com/

Heii INGAT !! Lembut itu TIDAK SAMA dengan Lemah


Sahabatku Suwarakalbu, tulisan ini sekadar renungan bagi kita semua, khususnya para muslimah yang ingin menjadi sosok lebih baik dari hari ke hari, minggu ke minggku bangkan tahun ke tahun.

Saat masih gadis, “Duuuuh, setiap hari ada kuliah nih. Capek. Tugas mulu. Yang enggak kuliah sih enak,”

Dear, yaah itu memang sudah konsekuensi kita sebagai mahasiswa, salah satunya ada tugas. Enggak hanya kamu aja yang begitu di dunia ini. Bersyukurlah masih bisa kuliah. Jutaan manusia di luar sana bahkan lebih, jangankan buat kuliah yang SPP-nya makin mahal, buat kebutuhan sehari-hari aja susah.

Saat sudah menikah dan jadi ibu rumah tangga, “Kerjaan enggak habis-habis. Habis ngurusin rumah ngurusin suami. Belum ngerjain tugas sendiri. Waktu 24 jam enggak cukup. Enggak apa-apa deh bayarannya surga, ya udah mau gimana lagi,”

Dear, kalau enggak mau begitu ya jangan menikah. Toh yang ngerasain hal semacam itu enggak hanya dirimu. Bersyukurlah sudah menikah. Di luar sana banyak yang ingin menikah tapi belum dikasih kesempatan.

Ini enggak mau, itu enggak mau. Ini rewel, itu ngeluh. Kok enggak jauh beda sama anak TK yang enggak jelas maunya apa. Padahal ini orang dewasa.

Adalah wajar jika sesekali mengeluh (yang tidak di sembarang tempat dan orang tentunya), namanya juga manusia. Tapi kalau setiap detik dan setiap yang dilakukan dikeluhkan? Terus maunya apa?

Mengeluh dalam bentuk lain yang kadang tidak disadari juga bisa dalam model cerita bahwa yang bersangkutan sudah menyelesaikan ini dan itu di saat yang lain tidur atau istirahat. Dear, buat apa seperti itu? Ingin mendapatkan pengakuan dari manusia yang tidak seberapa yang palingan hanya beberapa detik saja? Rugi, Dear.
Jika dirimu merasa yang paling sibuk dan menderita di dunia, lalu mereka yang saat ini sedang berada di daerah konflik yang enggak tahu apakah masih hidup atau enggak disebut apa?
Jika dirimu merasa paling kuat hanya karena yang lain tidur kamu sendiri yang bangun untuk ngelakuin ini dan itu, lalu orang-orang yang kerjanya bertaruh nyawa semisal pembersih kaca gedung bertingkat disebut apa?

Semoga hal-hal baik yang dilakukan tidak ternoda dengan hal-hal murahan seperti itu ya, Dear. Mari sama-sama kita berkontemplasi.
 ingat Allah enggak pernah tidur. Dia pasti tahu kok walaupun orang lain enggak tahu.

Penulis: Miyosi Ariefiansyah adalah seorang istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya ada di www.rumahmiyosi.com
www.ummi-online.com

@friskart

Hei Dear Jangan Merasa Menjadi Wanita Paling Menderita Sedunia



Sahabat Suwarakalbu apa yang kita ajarkan pada anak dalam rangka memenangkan persaingan? Apakah kita menyuruh anak fokus pada hasil dan tidak perlu mempedulikan cara? Atau bagaimana?
Di era globalisasi saat ini kita tahu bahwa persaingan hidup semakin ketat. Persaingan ada dalam segala bidang. Persaingan ekonomi, persaingan militer, persaingan posisi dan jabatan bahkan persaingan antar saudara untuk mendapatkan harta dan kekayaan.

Tentunya dengan adanya persaingan-persaingan seperti itu, timbul berbagai akibat yang negatif dan merusak. Lalu apakah islam melarang adanya persaingan? Tidak, sama sekali tidak. Islam hanya membatasi persaingan dalam kemaslahatan terutama persaingan dalam menggapai predikat takwa. Hanya persaingan tersebut yang diperbolehkan.

Lalu bagaimana dengan persaingan demi menggapai satu prestasi, seperti persaingan dalam perlombaan dan permainan.Persaingan dalam mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Nah, hal itu justru diperbolehkan bahkan bisa jadi harus. Yang tidak boleh adanya timbul sikap curang karena ingin jadi pemenang.

Kenapa bisa timbul adanya kecurangan dari sebuah persaingan? Seperti kita lihat, kecurangan saat ujian, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, kecurangan ketika pilkada untuk menjadi bupati atau gubernur misalnya, kecurangan dalam pemilihan PNS dengan suap dan masih banyak lagi.

Sebelum menjawabnya, mari kita simak satu kisah menarik berkenaan dengan hal itu.

Dikisahkan, Seorang Guru membuat garis sepanjang 10 centi meter di  atas papan tulis.

Kemudian ia berkata kepada murid-muridnya yang sedari tadi memperhatikan,”Anak-anak, coba perpendek garis ini”

Anak pertama pun maju kedepan dan mengambil kapur tulis yang disodorkan gurunya, kemudian ia menghapus 2 centi meter dari garis itu, sehingga menjadi menjadi 8 centi meter.

Lalu guru tersebut memanggil anak kedua untuk memperpendek garis tersebut, anak kedua pun melakukan hal yang sama sehingga garis tinggal 6 centi meter. Anak ketiga dan keempat pun maju ke depan sehingga garis hanya tinggal 2 centi meter.

Dan terakhir pendengar, anak yang bijak maju ke depan. Apa yang ia lakukan? apakah ia menghapus garis-garis tadi seperti teman-temannya? berarti kalau begitu ia menghapus garis terakhir sehingga tidak tersisa?

Tapi ternyata tidak. Ia membuat garis yang lebih panjang sejajar dengan garis pertama yang tinggal 2 centi meter itu.

Sang guru pun menepuk bahunya dan berkata ”Kau memang bijak, untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya. Cukup membuat garis yang lebih panjang, garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya.”

Nah sahabat, jika kita ingin menjadi juara satu di kelas, umpamanya,  jangan meraihnya dengan jalan mencontek, tapi belajar yang keras. Jika ingin berhasil dalam bisnis, jangan menjegal bisnis orang lain, tapi berpikirlah untuk meluaskan bisnis dan bekerja lebih keras lebih dari bisnis orang lain, walau bisa saja resikonya semakin besar.
Untuk menjadi pemenang, tak perlu mengecilkan yang lain. Tak usah menjelekkan yang lain, karena secara tidak langsung membicarakan kejelekannya adalah cara tak jujur untuk memuji diri sendiri. Cukup lakukan kebaikan yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk semuanya. Biarkan waktu akan membuktikan kebaikan tersebut.

Semoga menginspirasi teman- teman semua.

Sumber : www.ummi-online.com
Sumber Gambar : bolasport.com

INGAT !! Menjadi Pemenang Tak Perlu Curang, Begini Caranya Terbaik